Sabtu, 23 Mei 2015

on Leave a Comment

Mengenal Terminologi Waktu dalam Bahasa Gayo

Catatan: Muhammad Syukri

Kondisi ini disebut Senye dalam terminologi waktu di Gayo
Kondisi ini disebut Senye dalam terminologi waktu di Gayo

Suatu sore 35 tahun lalu, di depan kedai kopi Al Hilal Jalan Puteri Ijo Takengon, seorang lelaki paruh baya menyapa seorang bule dengan bahasa Gayo. Si bule itu membalas sapaan lelaki paruh baya itu dengan bahasa Gayo yang cukup fasih. Bule yang kemudian saya ketahui bernama John R Bowen melanjutkan perbincangan dengan lelaki paruh baya bernama Saleh Askut.
Saya, dan anak-anak lainnya mengerumuni dua orang berbeda bangsa tersebut. Di era itu, sangat jarang orang kulit putih berambut pirang yang berkunjung ke Takengon. Kalaupun ada satu dua orang yang berkunjung ke Takengon, mereka akan kesulitan berkomunikasi dengan warga dan para pedagang.
Waktu itu, hanya beberapa orang di Takengon yang dapat berbahasa Inggris dengan baik. Sosok-sosok itulah yang biasanya menjadi pemandu para bule itu. Selebihnya, bule tersebut  lebih banyak menggunakan bahasa isyarat, termasuk dengan pedagang dan anak-anak yang selalu mengerubuti mereka.
Sore itu, saya sedikit heran, barangkali juga anak-anak lain yang sedang mengerubuti John R Bowen. Pasalnya, bahasa yang digunakan bule ini, semuanya dapat saya pahami. Ternyata, bule itu sedang melakukan riset, bahkan menetap di Isaq, ibukota Kecamatan Linge. Dia sedang berbicara menggunakan bahasa Gayo dengan lelaki paruh baya itu.
Setahu saya waktu itu, belum ada bule yang dapat berbahasa Gayo dengan lancar dan fasih. Hebatnya lagi, dalam perbincangan itu John R Bowen menggunakan terminologi (istilah) yang jarang digunakan oleh suku Gayo sendiri. Hal itu membuktikan bahwa lelaki asal Amerika Serikat tersebut benar-benar menggali semua kata-kata kuno dalam bahasa Gayo.
Perbincangan yang paling saya ingat waktu itu dan membuat penasaran, ketika Saleh Askut menanyakan kepada John R Bowen: “Selo sawah ari Isaq? (kapan tiba dari Isaq?).” Kemudian John R Bowen menjawab: “Mugeleng matani lo male mayo ku ruhul, bang.”
Sampai hari ini, saya jarang mendengar perbincangan dua atau sekelompok orang di Dataran Tinggi Gayo yang menggunakan terminologi seperti diucapkan oleh John R Bowen itu. Padahal, yang dimaksud John R Bowen dengan terminologi “mugeleng matani lo male mayo ku ruhul” itu adalah penunjuk waktu. Dia ingin mengatakan bahwa tiba di Takengon saat terik matahari yang amat menyengat, sekitar pukul 12.30 WIB.
Sekarang, coba perhatikan perbincangan bahasa Gayo di sekitar kita, masih adakah yang menggunakan terminologi klasik dari perbendaharaan bahasa Gayo? Tentu saja masih ada, terutama generasi tua yang tetap konsisten menggunakan terminologi semacam itu. Sebaliknya, perbincangan generasi muda dalam bahasa Gayo, umumnya sudah bercampur dengan berbagai terminologi dari bahasa lain.
Perbincangan itu memang dimengerti oleh si pembicara atau pendengar. Tetapi, sungguh disayangkan apabila terminologi klasik dalam bahasa Gayo ditinggalkan oleh si pemilik bahasa itu. Dikhawatirkan, lama-kelamaan terminologi klasik itu makin terlupakan dan hilang dari perbendaharaan kata bahasa Gayo.
Oleh karena itu, melalui tulisan sederhana ini, saya ingin mengingatkan kembali tentang terminologi waktu sebagaimana ditulis AR Hakim Aman Pinan dalam buku Pesona Tanoh Gayo (2003).
1.    Tekurik, sekitar pukul 02.00 WIB [Masih jarang-jarang ayam jantan berkokok, namun masih terdengar satu dua ayam berkokok];
2.    Tekurik pemulo, sekitar pukul 03.00 WIB [Ayam berkokok mulai bertambah];
3.    Tekurik rami, sekitar pukul 03.30 WIB [Ayam berkokok sudah ramai, saling bersahutan dari berbagai penjuru];
4.    Tekurik pemarin, 03.45 WIB [Ayam-ayam sudah mulai berhenti berkokok, namun masih ada satu-satu yang berkokok sampai pagi];
5.    Fejer, sekitar pukul 04.30 WIB [Gambaran fajar mulai kelihatan];
6.    Pestak fejer, sekitar pukul 05.00 WIB [Fajar diufuk Timur mulai kelihatan jelas];
7.    Soboh, sekitar pukul 05.30 WIB [Menjelang pagi, waktu shalat subuh];
8.    Eber-eber, sekitar pukul 06.00 WIB [Cahaya mulai terang, burung-burung pun berkicau];
9.    Kekabur, sekitar pukul 06.15 WIB [Cahaya tambah terang];
10. Biner matani lo, sekitar pukul 06.30 WIB [Langit di ufuk Timur kelihatan merah];
11. Mencer matani lo, sekitar pukul 07.00 WIB [Matahari mulai naik di ufuk Timur];
12. Pener matani lo, sekitar pukul 08.30 WIB [Kesempatan berjemur untuk menghangatkan badan];
13. Nik matani lo, antara pukul 09.00-10.00 WIB [Matahari terus naik];
14. Atas lo, antara pukul 10.00-11.00 WIB [Panas sudah mulai menyengat];
15. Atas lo timang, sekitar pukul 12.00 WIB [Terik matahari yang amat menyengat];
16. Mugeleng matani lo male mayo ku ruhul, sekitar pukul 12.30 WIB [Terik matahari yang amat menyengat];
17. Ruhul, sekitar pukul 13.00 WIB [Klimak terik matahari, shalat dhuhur];
18. Matani lo dabuh ku ilupen, antara pukul 13.30-15.00 WIB [Panas mulai menurun];
19. Ashar, sekitar pukul 16.00 WIB [Mengarah ke sore, shalat ashar];
20. Mugegir matani lo, sekitar pukul 17.00 WIB [Matahari mulai tergelincir];
21. Matani lo dabuh male metuh, sekitar pukul 17.30 WIB [Matahari mengarah terbenam];
22. Iyo lo, sekitar pukul 18.00 WIB [Panas terus menurun, warna daun kayu mulai berubah];
23. Senye, sekitar pukul 18.15 WIB [Masih ada gambaran terang, tetapi semua kurang jelas terlihat];
24. Metuh matani lo, sekitar pukul 18.30 WIB [Terbenamnya matahari];
25. Kekawat ulu, sekitar pukul 18.45 WIB [Terus mengarah ke situasi gelap];
26. Megerip, sekitar pukul 19.00 WIB [Bertambah gelap, shalat magrib];
27. Esa, sekitar pukul 20.00 WIB [Keadaan sudah gelap, shalat Isya];
28. Kelam, sekitar pukul 21.00 WIB [Suhu makin dingin, keadaan gelap];
29. Relem lo, sekitar pukul 22.00 WIB [Suhu makin dingin, keadaan gelap];
30. Tengah melem, sekitar pukul 24.00 WIB [Suhu amat dingin];
31. Tengah melem bute, antara pukul 00.00-01.00 WIB [Pertukaran waktu].
Mudah-mudahan dengan ulasan singkat ini akan memicu para pembaca untuk menghimpun terminologi klasik lainnya dalam bahasa Gayo. Dengan harapan, terminologi itu nantinya akan digunakan dalam bahasa lisan maupun tulisan sehingga bahasa Gayo akan mampu bertahan ditengah perubahan zaman yang sedemikian cepat. Wallahualam bis sawab…

Sumber :

http://lintasgayo.co/2015/05/23/mengenal-terminologi-waktu-dalam-bahasa-gayo

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.