Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

on Leave a Comment

Hunian Awal Leluhur Masyarakat Gayo, Mendale dan Sekitarnya

Oleh : Ketut Wiradnyana

Analisa karbon yang telah berlangsung pada ekskavasi kali ini atas bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah, untuk itu Balai Arkeologi Medan sebagai Unit Pelaksana Teknis yang diantaranya memiliki tugas pokok penelitian arkeologi di wilayah kerjanya, mengucapkan banyak terimakasih, sehingga sebagian kurun waktu aktivitas di Loyang Mendale dapat diketahui dengan pasti.

Kami berharap di tahun mendatang peran Pemerintah Daerah lebih banyak lagi dalam kaitannya mengungkapkan sejarah budaya masyarakat Gayo. Sejalan dengan itu, kami juga mengucapkan terimakasih atas partisipasi masyarakat Mendale dan Ujung Karang atas segala bantuannya memberikan lahan untuk dijadikan objek penelitian atau pun bantuan lain yang dapat membantu kelancaran kegiatan penelitian. Tidak ketinggalan instansi terkait  yang ada di Kabupaten Aceh Tengah yang turut melancarkan kegiatan penelitian kami. Teman–teman media cetak lokal, nasional dan internasional yang telah mempublikasikan penelitian kami, sehingga kawasan Mendale dan sekitarnya, Lut Tawar dan arkeologi semakin dikenal di segala lapisan masyarakat, untuk itu kami ucapkan banyak terimakasih.

Budaya Mesolitik dan Neolitik

Pengamatan atas morfologi dan teknologi artefak batu yang ditemukan di Gua Putri Pukes dan Loyang Mendale menunjukkan adanya indikasi dua babakan masa yang berbeda yang telah berlangsung di kedua lokasi dimaksud.

Babakan masa yang tertua yang ditunjukkan dari sebuah alat batu berupa kapak genggam dengan morfologi dan teknologi dari masa mesolitikum. Hal tersebut juga di perkuat dengan temuan serut sampingpada kedlaman 70 cm yaitu di spit (7) kotak T8 S2 yang juga umum ditemukan di situs-situs yang sejaman dengan periodisasi mesolitikum. Kalau kita perhatikan kotak gali tersebut nampak adanya babakan masa yang jelas berbeda di lapisan kotak gali ini. Dimana sebelum spit (7) atau di bagian atas kedalaman 70 cm nampak adanya temuan gerabah yang merupakan ciri khas dari budaya neolitik dan setelah spit (7) atau setelah kedalaman 70 cm, mencirikan periode mesolitik dengan adanya alat serpih berbahan cangkang kerang dan serut samping .

Keberadaan kapak genggam  pada singkapan tanah sisa pengerukan tebing ceruk di situs Loyang Mendale dengan teknologi dan morfologi yang sama dengan kapak genggam di Loyang Putri Pukes semakin meyakinkan bahwa proses hunian yang telah berlangsung di kawasan ini paling tidak dimulai sejak periode mesolitik

Selanjutnya dengan temuan kapak lonjong dan kapak persegi di Gua Putri Pukes dan Loyang Mendale menunjukkan adanya aktivitas di kedua lokasi tersebut yang memiliki periodisasi neolitikum. Sebuah pecahan alat batu berupa kapak persegi pada kedalaman sekitar 10 cm atau di spit 1 kotak T15 S6 menunjukkan adanya aktivitas yang cukup intensif di kotak gali tersebut dalam kaitannya dengan paralatan batu (kapak lonjong dan persegi). Dengan demikian patut diduga bahwa kapak batu masa neolitik di produksi di situs dimaksud mengingat bahan kapak persegi juga ditemukan di kotak gali dimaksud.

Sedangkan dari hasil ekskavasi yang telah dilakukan di Loyang Ujung Karang, menghasilkan seperangkat peralatan batu berupa 2 (dua) mata panah berbahan andesitik. Menilik morfologi dan teknologinya kedua alat tersebut kerap merupakan bagian dari budaya mesolitik, namun karena ke dua alat dimaksud ditemukan sekonteks dengan kerangka manusia yang berciri dari budaya neolitik (bekal kubur gerabah yang diletakkan di dada) maka dari aspek morfologi teknologi alat batu dapat dikatakan bahwa aktivitas yang telah berlangsung di situs Loyang Ujung Karang, Mendale dan Putri Pukes telah berlangsung dari sejak babakan masa mesolitik dan neolitik. Namun kalau kita cermati tinggalan lainnya yaitu beberapa fragmen gerabah dan fragmen keramik, maka kawasan Mendale dan sekitarnya telah dihuni dari sejak masa mesolitik hingga kolonial.

Analisa Karbon

Analisa atas 3 (tiga) jenis sampel yang diambil dari Kotak gali U2 T1 di Loyang Mendale yaitu sampel abu pembakaran, sampel tulang manusia dan hewan serta sampel arang.  Sampel abu pembakaran diambil  pada kotak U2 T1 ekt. 2 pada kisaran spit (4) dengan kedalaman dari muka tanah berkisar 10 cm. sedangkan sampel analisa karbon pada tulang diambil pada ekt 1 dengan kedalaman sekitar 20 cm dari permukaan tanah.  Sedangkan sampel analisa karbon pada arang sisa pembakaran diambil dari ekt.2  dengan kedalaman 40-50 cm yang masuk kedalam spit (7) sisa pembakaran. Kalau kita menggunkan lapisan tanah pada sampel dimaksud maka tampak jelas bahwa lapisan abu pembakaran berada pada lapisan di atas dan dilanjutkan dengan lapisan tulang. Sedangkan lapisan  arang sisa pembakaran sangat jelas berada di dilapisan di bawahnya.

Adapun hasil dari analisa yang telah dilakukan pada ke-3 (tiga) sampel dimaksud yaitu:

NO
KOTAK
SPIT
KEDALAMAN DARI MUKA TANAH
JENIS SAMPEL
WAKTU

1
U2  T1 Ext 2
4
10 cm
Abu pembakaran
1740 ± 100  BP

2
U2 T1 Ext 1
Lot 3
20 cm
Tulang
1870 ±  170BP

3
U2 T1 Ext 2
7
40 – 50 cm
Arang
3580  ± 100 BP


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hunian dalam babakan masa neolitik yang telah berlangsung di Loyang Mendale berkisar dari 3580 tahun yang lalu hingga 1740 tahun yang lalu atau tahun 270 Masehi.

Namun dari hasil analisa atas morfologi dan teknologi pada berbagai artefak yang ada hunian di situs Mendale dan sekitarnya sangat mungkin jauh lebih tua dari masa itu, dan juga adanya temuan gerabah berglasir serta fragmen keramik menunjukan bahwa hunian di situs itu masih terus berlanjut hingga masa kolonial. Hasil analisa karbon atas tiga sampel dimaksud baru mewakili sebagain dari periodisasi neolitik yang telah berlangsung di wilayah itu dan hanya baru menggambarkan paruh waktu yang pasti atas sebagian aktivitas yang telah berlangsung di Loyang Mendale.

Selain itu hasil analisa karbon dimaksud memberikan gambaran bahwa pada sekitar 3580 tahun yang lalu telah ada kelompok orang yang berbudaya neolitik, telah mengenal estetika (perhiasan berbahan taring hewan) dan berbagai peralatan hidup dan upacara berbahan tanah liat dan batu serta telah mengenal religi, dengan menguburkan salah satu anggota kelompoknya yang telah meninggal dengan cara melipat kaki si mati dan menindihnya dengan bongkahan batu. Orang yang dikuburkan tersebut sangat mungkin merupakan seorang tokoh pada msanya, mengingat serakan tulang yang ada pada lapisan atasnya tidak diberlakukan seperti halnya kerangka di bawahnya. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa penguburan dengan cara menindih orang yang telah meninggal merupakan perlakuan khusus yang diperuntukkan bagi orang yang memiliki kedudukan khusus di kelompoknya.

Lokasi yang sempit dan berada di ujung utara deretan ceruk Mendale dengan posisi yang agak tinggi tersebut digunakan sebagai areal penguburan pada sekitar 3580 tahun yang lalu dan sekitar 1870 tahun yang lalu. Adanya serakan tulang manusia di atas kerangka yang tertindih bongkahan batu, sisa pembakaran dan juga abu pembakaran menggambarkan bahwa aktivitas lainnya juga dilakukan di areal tersebut. Artinya aktivitas di atas penguburan dapat juga dilakukan penguburan lainnya atau aktivitas lainnya seperti pembuatan api, baik untuk menghangatkan badan ataupun untuk aktivitas lainnya seperti aktivitas berdoa di atas penguburan dimaksud. Serakan tulang pada  1870 tahun yang lalu atau tahun 140 Masehi sangat mungkin merupakan kuburan bagi orang biasa atau orang yang tidak memiliki kedudukan istimewa di dalam kelompoknya, sehingga tidak harus ditindih dengan batu.

Secara umum penggambaran atas aktivitas yang telah berlangsung di situs Loyang Mendale dan sekitarnya bahwa telah ada kelompok masyarakat yang berbudaya mesolitik sebelum 3580 tahun yang lalu atau sekitar 1500 sebelum Masehi. Kemudian atas analisa karbon yang dilakukan dapat dipastikan bahwa pada 3580 tahun yang lalu telah ada kelompok orang yang berbudaya neolitik beraktivitas di situs Loyang Mendale dan sekitarnya. Pada tahun 140 Masehi juga terdapat kelompok orang yang tinggal di Loyang Mendale dan mereka menguburkan orang di tempat yang sebelumnya dijadikan areal penguburan. Dari sisa tulang hewan yang ditemukan di areal yang sama diindikasikan juga bahwa mereka beraktivitas (mengolah dengan membakar, mengonsumsi dan juga membuang tulang sisa makanan) di tempat itu. Pada tahun 270 Masehi atau 130 tahun setelah penguburan terakhir kemudian lokasi itu lebih diintensifkan sebagai lokasi hunian. Hal ini ditandai dengan tebalnya abu pembakaran, yang juga menunjukan aktivitas pembakaran yang sangat tinggi sehingga bahan organik sudah tidak nampak lagi. Kalau dikaitkan dengan pemanfaatan lahan maka sangat mungkin aktivitas di lokasi itu berkaitan dengan adanya penguburan.

Orang Gayo dengan Kelompok lain

Bahwa temuan kerangka manusia di Takengon yang memiliki masa 3.580 tahun yang lalu menggambarkan kepada kita adanya kelompok manusia yang telah beraktivitas aktif di sekitar Danau Lut Tawar. Hasil analisa karbon pada konteks temuan kerangka dimaksud mengindikasikan bahwa kerangka itu relatif memiliki masa yang sangat dekat dengan masa kini, artinya ada kemungkinan kerangka manusia yang ditemukan di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang memiliki keterkaitan yang kuat dengan orang Gayo sekarang ini. Untuk itu masih perlu dilakukan penelitian arkeologis yang jauh lebih intensif di Loyang  Mendale dan sekitarnya dan juga di wilayah tanah Gayo, dan juga penelitian dan analisa lainnya seperti karbon, pollen, antropologi ragawi dan juga DNA. Penelitian dimaksud dapat dengan baik membantu merekonstruksi sejarah budaya di Tanah Gayo dan juga proses perubahan budaya dapat dimengerti dengan lebih baik.

Penelitian dalam bentuk ekskavasi di sekitar wilayah Gayo juga sangat diperlukan untuk dapat menginformasikan lebih baik berbagai unsur kebudayaan dan hubungan orang Gayo dengan Orang Karo, hubungan orang Gayo dengan orang Batak Toba atau juga orang Gayo dengan orang Aceh Pesisir.

*Peneliti Madya Bidang Prasejarah di Balai Arkeologi Medan

Sumber :

http://www.lintasgayo.com/54799/hunian-awal-leluhur-masyarakat-gayo-mendale-dan-sekitarnya.html
on Leave a Comment

Ekspedisi dan Rekonstruksi Genosida Belanda Di Tanah Gayo 1904

Foto seusai peperangan di Kute Reh Linge, menurut ahli sejarah Belanda diperkirakan sekitar 4.000 orang Gayo tewas
Foto seusai peperangan di Kute Reh Linge, menurut ahli sejarah Belanda diperkirakan sekitar 4.000 orang Gayo tewas.
Trio wartawan senior asal Aceh, HM Iwan Gayo, LK. Ara dan Oedin dela Rosa, pada tanggal 13 April 2015, telah sepakat dan menandatangani MOU (Memory of Understanding) untuk bekerjasama secara sukarela meneliti menelusuri, dan merekonstruksi sejarah Perang Aceh episode Pembantaian Etnis Gayo dan Alas di Dataran Tinggi Tanah Gayo (Aceh Tengah) yang dilakukan oleh prajurit-prajurit kejam dari Detasemen Marsose pimpinan Kolonel Belanda CJT Van Daalen pada tahun 1904.

Perang yang berat sebelah dan dilakukan secara membabi buta dan penuh rekayasa genosida ini dilakukan oleh Belanda, semata-mata untuk dapat segera mengakhiri dan menuntaskan Perang Aceh yang sangat panjang, melelahkan dan membangkrutkan keuangan Pemerintah Belanda itu. Pembantaian yang dilakukan oleh 10 brigade Marsose (maréchaussée), itu berlangsung sangat singkat, hanya 165 hari (8 Februari 1904 – 23 Juli 1904). Ya, dalam waktu kurang dari setengah tahun itu, Overste Van Daalen telah membantai 4.061 rakyat Gayo dan Alas dengan perincian 2.902 pria tewas, dan 1.159 wanita serta anak-anak.

Akibatnya di Belanda sendiri muncul kritik pedas dari sejumlah anggota parlemen, pada tanggal 1907 sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang dengan nama samaran Wekker (WA. van Oorschot) berjudul Hoe beschaafd Nederland in de twintigste eeuw vrede en orde schept op Atjeh (Bagaimana Beradabnya Belanda di Abad ke-20 dalam Menciptakan Perdamaian dan Ketertiban di Aceh) muncul di surat kabar De Avondpost terbitan Den Haag, yang mengungkap penyalahgunaan wewenang di Aceh.

GALANG DUKUNGAN PARLEMEN RI

Tahap awal program napak tilas berupa ekspedisi dan rekonstruksi yang akan dilakukan oleh trio wartawan asal Aceh, adalah menggalang dukungan dari anggota parlemen asal Aceh yang berjumlah 13 orang, selain itu diminta juga dukungan 4 orang anggota Senator (DPD). Sejauh ini Ketua Forum Bersama anggota DPR & DPD asal Aceh, Prof. Dr. Bachtiar Aly (Partai Nasdem) telah menyatakan dukungannya secara penuh dan memberi saran agar buku “PERANG GAY0-ALAS MELAWAN KOLONIALIS BELANDA” karangan MH Gayo, agar dapat dicetak ulang dengan ISBN/ISSN untuk disosialisasikan secara luas.

Menurut Prof. Bachtiar Aly, buku tersebut bukanlah sekedar torehan perjalanan panjang rakyat Gayo dan Alas, melainkan ia menjadi mozaik sejarah Indonesia masa lalu, kini, dan kontemporer. Tidak hanya mendukung secara moral, Profesor Bachtiar Aly bahkan membekali panitia kerja dengan sumbangan tunai 15 juta rupiah. Sedangkan Haji Firmandez, anggota DPR-RI dari Golkar kelahiran Gayo, menyumbang 20 juta rupiah. Dukungan serupa juga dinyatakan dengan penandatanganan naskah MOU oleh anggota DPD asal Aceh; Fachrul Razy Mi.P, Sudirman, dan Rafly. Beberapa anggota DPR dan DPD lainnya juga sudah menyatakan dukungannya dan siap untuk menandatangani naskah dukungan sebelum reses yad.

MAPPING 10 BENTENG DI DATARAN TINGGI TANAH GAYO

Kemudian mereka akan mengadakan mapping ke 7 Benteng di Gayo Lues yaitu 1. Benteng Pasir, 1. Benteng Pasir, 2.Benteng Gemuyang, 3. Benteng Durin, 4. Benteng Badak, 5. Benteng Rikit Gaib, 6. Benteng Penosan, 7. Benteng Tampeng, serta 3 Benteng di Tanah Alas, yaitu 8. Benteng Kute Reh, 9. Benteng Likat, dan. 10. Benteng Lengat Baru.

VAN DAALEN

Van Daalen
Van Daalen
Karena dianggap berhasil memadamkan perlawanan rakyat Gayo-Alas dari gunung pedalaman Aceh itu maka Pemerintahan Belanda langsung menunjuk Van Daalen sebagai Gubernur Aceh meskipun oleh Dewan Hindia,pembantaian yang dilakukan Van Daalen kepada pribumi, sangat tidak bijaksana dan sangat menjijikkan itu. Gotfried Coenraad Ernst van Daalen (lahir di Makassar, 23 Maret 1863 – meninggal di Den Haag, 22 Februari 1930 pada umur 66 tahun) adalah tokoh militer Belanda.

Van Daalen amat dikenal atas tindakannya di Aceh, ketika penduduk Tanah Gayo dan Alas banyak dibantai dan semasa menjabat sebagai gubernur militer di sana. Saat tindakannya banyak diketahui pers di Belanda, Van Daalen harus mengundurkan diri. Van Daalen adalah putera Gotfried Coenraad Ernst van Daalen Tua, seorang kapiten dalam Perang Aceh Kedua. Selulus HBS pada usia 16 tahun, ia meneruskan pendidikan ke Koninklijke Militaire Academie di Breda sebagai kadet kesatuan artileri di Hindia-Belanda. Pada bulan November 1884, ia pergi berdinas di Jawa dengan kesatuan artileri dengan pangkat Letda. 

Sumber :

http://www.lintasgayo.com/53984/expedisi-dan-rekontruksi-genosida-belanda-di-tanah-gayo-1904.html

Jumat, 09 Oktober 2015

on Leave a Comment

Hari Ulang Tahun Jam Astronomi Tertua di Dunia. Ini Dia Sejarahnya !

Prague Astronomical Clock

The Clock Tower

Jam Astronomi Praha berada di sebuah alun-alun yang ada di kota tua Praha, Republik Ceko. Jika kesana maka kita akan melihat salah satu benda bersejarah yang memang dari dahulu kala sampai sekarang ini, menjadi kebanggaan semua kota di sana. Jam Astronomi Praha namanya atau dalam bahasa internasional, disebut Prague Astronomical Clock, yaitu sebuah jam kuno dengan ukuran raksasa yang kokoh terpasang pada dinding selatan yang ada di Balai Kota. Jam tersebut pertama kali diketahui, dipasang pada tahun 1410.

Prague Orloj
Semenjak pertama kali Jam Astronomi Praha tersebut terpasang dengan gagahnya, yaitu pada tahun 1410 silam, jam tersebut sampai sekarang di hari ulang tahunnya yang ke-605 terlihat masih kokoh, terawat, dan masih beroperasi sebagai penunjuk waktu, sehingga hal ini langsung menjadikannya sebagai satu-satunya jam astronomi paling tua yang pernah ada di dunia dan masih hidup dengan baik. Mengulang pada awal kemunculan jam tertua ini, ternyata salah satu orang yang memang membuat Jam Astronomi Praha yaitu Mikulas of Kadan bersama seorang profesor ahli matematika dan astronomi yang berasal dari Universitas Charles, bernama Jan Sindel, sekitar tahun 1410.

Jam Astronomi Praha atau kerap disebut Orloj, merupakan sebuah jam tipe mekanik kuno yang berfungsi sebagai salah satu penunjuk dari pergerakan semua benda yang ada di langit. Jam yang sampai sekarang kokoh berdiri ini, sengaja dibuat oleh Mikuláš yang berasal dari wilayah Kadan dan dibantu Jan Šindel, salah satu profesor matematika dan astronomi asal Universitas Charles. jam yang disertai kalender tersebut, semakin terlihat indah usai ditambahkan seni ukiran dengan gaya gothik yang terlihat sangat mendetail.

Detil Zodiak pada Orloj

Apabila kita lihat, jika pada Jam Astronomi Praha tersebut seolah melambangkan apabila bumi sebagai pemandangan langit setempat, yang nampak dilapisi dengan beberapa komponen yang seakan bergerak di atasnya. Beberapa dari komponen tersebut, diantaranya ialah cincin zodiak yang memperlihatkan zodiak waktu sekarang ini, juga adanya 2 ikon yang masing-masing sebagai lambang suatu pergerakan matahari juga bulan.

Jam Astronomi Praha sendiri, ternyata bisa dipakai untuk membaca bagaimana posisi matahari pada berbagai musim. Selanjutnya, terbentang hiasan beberapa patung yang nampak bergerak semakin memperindah dan memperlihatkan kegagahan jam tertua ini, seperti terlihat ada sekitar 12 patung utusan yang ada di ajaran umat kristiani yang sengaja dirancang untuk bisa muncul setiap jam dan disesuaikan dengan 12 angka di jam tersebut.

Berikut beberapa foto yang menunjukkan detil dari Orloj

Sebagai Penunjuk Kalendar




Patung-Patung Yang Berganti Tiap Jamnya




Keempat patung yang mengapit jam di kedua sisi ini juga mempunyai makna tersendiri. Yang pertama di sisi kiri adalah wujud kesombongan seseorang yang mengagumi dirinya melalui sebuah cermin. Yang kedua adalah wujud keserakahan atau riba yang diwujudkan dengan seseorang yang memegang sekantung isi emas. Yang ketiga adalah melambangkan kematian dan yang terakhir adalah melambangkan kesenangan duniawi.Jadi saat pergantian jam, si tengkorak akan membunyikan bel pada jam sebagai tanda "waktunya untuk pergi" , akan tetapi semua tokoh patung tersebut menggelengkan kepala menandakan kalau mereka tidak siap untuk pergi.

Untuk Melihat Pergerakan Matahari atau Bulan



Terakhir adalah persembahan dari Google Doodle yang turut merayakan ulang tahun Prague Orloj hari ini 



Sumber :

http://www.kaskus.co.id/thread/56175bcaa2c06ee5758b4567/?ref=homelanding&med=hot_thread

Selasa, 28 Juli 2015

on Leave a Comment

7 Perang Paling Aneh dan Konyol di Dunia

1. The Anglo-Zanzibar War: Perang paling singkat dalam sejarah, hanya 40 menit


Perang unik antara Inggris vs Zanzibar pada 27 Agustus 1896, hanya berlangsung selama 40 menit. Ini merupakan perang terpendek dalam catatan sejarah. Pemicu perang adalah kematian pro Inggris, Sultan Hamd bin Thuwaini melawan penggantinya,Sultan Khalid bin Barghash. Sesuai perjanjian yang ditandatangani tahun 1886, pengganti Sultan harus persetujuan konsul Inggris, namun Khalid melanggar perjanjian tersebut, tanpa persetujuan Inggris Khalid naik tahta. Inggris berang, dan memberi ultimatum untuk turun tahta, namun Khalid tak mengindahkan. Sebaliknya, merespon ultimatum Inggris, Khalid mengerahkan angkatan bersenjatanya dan membaricade istananya dari serangan Inggris.

Inggris berang! Sikap menantang Khalid dijawab Inggris dengan serangan di pagi hari tgl 27 Agustus. Inggris membombardir Istana Khalid dan mencerai beraikan pasukan yg menjaga istana. Setidaknya ada 500 korban dari pihak Khalid, sementara hanya satu prajurit angkatan laut Inggris yang cidera. Perang singkat itu hanya berlangsung 40 menit. Sultan Khalid pun bertekuk lutut!

2. The Pig War: dipicu oleh bidikan dari babi


'Perang Babi'..Ini bukan perang melawan Flu Babi atau Swine Flu, tapi Perang yang terjadi gara-gara tertembaknya seekor babi. Hahh!! Jangan kaget, tapi itulah keunikan perang ini sehingga disebut Pig War. Terjadi tahun 1859 antara Amerika vs Inggris. Sebenarnya inti dari perang ini adalah perselisihan perebutan Pulau San Juan, yang ada di antara Pulau Vancouver dan daratan Amerika Utara. Perang Babi, begitu dipanggil karena dipicu oleh tertembaknya seekor babi. Banyak sebutan untuk masa itu; antara lain; Episode Babi, Perang Babi dan Kentang, Perselisihan Batas San Juan atau Perselisihan Batas Barat laut. Babi adalah satu-satunya "korban" perang, membuat konflik ini tidak darah alias tidak ada korban jiwa manusia. Ha..ha..ha..

3. 335 Tahun 'Perang: berlangsung selama 335 tahun dengan tidak ada korban


Perang ini luar biasa lama, 335 tahun (1651-1986), antara Belanda vs Kepulauan Scilly (southwest coast of the United Kingdom) . Namun peristiwa aneh ini tercatat sebagai perang terlama dalam catatan sejarah. Setelah ratusan tahun, akhirnya perdamaian ditandatangani pada 1986.

4.Moldovan-Transdniestrian War: dimana kedua belah pihak 'petugas akan minum bersama-sama pada malam dan berperang pada hari


Moldovan-Transdniestrian War: Setelah minum-minum pada malam-malam sebelumnya, para perwira yang kemudian berbeda negara setelah Uni Soviet runtuh, kemudian menjadi saling bermusuhan dan berperang berhari-hari. Sebagaimana diketahui, setelah runtuhnya Uni Soviet, 2/3 Moldova ingin masuk Rumania, tetangganya di sebelah barat. Sementara bagian Timur, sungai Dniestr, ingin dekat Ukraina dan Rusia.

Perang pun meledak, dan timur retak dan membentuk Transdniestria, yang sampai sekarang tidak dikenal dunia. Lalu, Moldova dan Transdniestria terlibat perang. Perang ini disebut perang paling aneh di dunia. Militer lokal menyebutnya sebagai Perang Mabuk.

Bayangkan saja, bagaimana tidak disebut Perang Mabuk, para perwira dua negara itu pagi sampai sore mereka berperang mati-matian, saling menembak-membunuh satu dan lainnya, namun malamnya mereka bertemu, bersenang-senang mabok bersama. Lho..kok bisa ya..

Maklum saja, mereka sebelumnya sudah saling mengenal, hanya karena akhirnya negara berbeda karena kejatuhan Uni Soviet, membuat mereka bermusuhan. Demi negara yg mereka bela, mereka bermusuhan, tapi pertemanan tetap berjalan pada malam hari. Aneh!!!

5.Emu War: bagaimana Australia kehilangan perang terhadap unggas


Emu War, juga dikenal sebagai Great Emu War.Perang ini tak kalah anehnya, di mana operasi militer dilancarkan untuk melawan kawanan burung. Perang aneh ini terjadi tahun 1932 di Australia Barat. Pasukan Militer Australia (masih di bawah Inggris) dipimpin Mayor Meredith. Tercatat, para tentara menggunakan senapan mesin lewis dan menghabiskan 10.000 selongsongan peluru. Namun perang ini sia-sia karena burung-burung yang ditembaki ini berhasil melarikan diri. Dengan kecepatan sekitar 50 km/jam (30 mph), burung-burung ini sebagian besar berhasil menghindari serangan peluru senapan mesin.

Namun begitu diperkirakan, ada sekitar 20.000 burung terbunuh. Mayor Meredith, sang komandan, tercengang dengan hasil yg tak diharapkan itu. Menteri Pertahanan Australia lalu memerintahkan pasukan mundur dan menghentikan serangan. Emu War pun berakhir dengan kekalahan pihak Australia. Ck..ck...Stupid War!!

6. Football the War: mulai dengan sebuah permainan sepak bola


Perang antara El Savador melawan Honduras tahun 1969 ini disebut Perang Sepak Bola karena berlangsungnya bertepatan dengan berlangsungnya babak kedua kualifikasi Piala Dunia 14 Juli 1969, zona Amerika Utara. Perang ini berlangsung 100 jam atau perang lima hari. Pemicu konflik ini adalah masalah imigrasi dari El Salvador ke Honduras.Puncaknya, El Savador menyerang Honduras. Lalu, AS menegosiasikan untuk keduanya gencatan senjata yang baru terwujud pada 20 Juli. El Salvador akhirnya ikut Piala Dunia tahun 1970, namun mereka gagal.

7. War of 1812: disebabkan oleh cacat ringkas komunikasi


Disebut juga Madison's War. diberi namai Perang Pemasangan Komunikasi. Dua hari sebelum perang itu pemerintah Inggris menyatakan bahwa ia akan mencabut undang-undang yang merupakan alasan utama untuk perang . Jika sudah ada komunikasi dengan ringkas Eropa, perang juga mungkin telah dihindari.

Sumber :

http://terganjen.blogspot.com/2013/01/7-perang-paling-aneh-dan-konyol-di-dunia.html#sthash.d6YQsHmd.dpuf
Diberdayakan oleh Blogger.