Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

on Leave a Comment

Hunian Awal Leluhur Masyarakat Gayo, Mendale dan Sekitarnya

Oleh : Ketut Wiradnyana

Analisa karbon yang telah berlangsung pada ekskavasi kali ini atas bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah, untuk itu Balai Arkeologi Medan sebagai Unit Pelaksana Teknis yang diantaranya memiliki tugas pokok penelitian arkeologi di wilayah kerjanya, mengucapkan banyak terimakasih, sehingga sebagian kurun waktu aktivitas di Loyang Mendale dapat diketahui dengan pasti.

Kami berharap di tahun mendatang peran Pemerintah Daerah lebih banyak lagi dalam kaitannya mengungkapkan sejarah budaya masyarakat Gayo. Sejalan dengan itu, kami juga mengucapkan terimakasih atas partisipasi masyarakat Mendale dan Ujung Karang atas segala bantuannya memberikan lahan untuk dijadikan objek penelitian atau pun bantuan lain yang dapat membantu kelancaran kegiatan penelitian. Tidak ketinggalan instansi terkait  yang ada di Kabupaten Aceh Tengah yang turut melancarkan kegiatan penelitian kami. Teman–teman media cetak lokal, nasional dan internasional yang telah mempublikasikan penelitian kami, sehingga kawasan Mendale dan sekitarnya, Lut Tawar dan arkeologi semakin dikenal di segala lapisan masyarakat, untuk itu kami ucapkan banyak terimakasih.

Budaya Mesolitik dan Neolitik

Pengamatan atas morfologi dan teknologi artefak batu yang ditemukan di Gua Putri Pukes dan Loyang Mendale menunjukkan adanya indikasi dua babakan masa yang berbeda yang telah berlangsung di kedua lokasi dimaksud.

Babakan masa yang tertua yang ditunjukkan dari sebuah alat batu berupa kapak genggam dengan morfologi dan teknologi dari masa mesolitikum. Hal tersebut juga di perkuat dengan temuan serut sampingpada kedlaman 70 cm yaitu di spit (7) kotak T8 S2 yang juga umum ditemukan di situs-situs yang sejaman dengan periodisasi mesolitikum. Kalau kita perhatikan kotak gali tersebut nampak adanya babakan masa yang jelas berbeda di lapisan kotak gali ini. Dimana sebelum spit (7) atau di bagian atas kedalaman 70 cm nampak adanya temuan gerabah yang merupakan ciri khas dari budaya neolitik dan setelah spit (7) atau setelah kedalaman 70 cm, mencirikan periode mesolitik dengan adanya alat serpih berbahan cangkang kerang dan serut samping .

Keberadaan kapak genggam  pada singkapan tanah sisa pengerukan tebing ceruk di situs Loyang Mendale dengan teknologi dan morfologi yang sama dengan kapak genggam di Loyang Putri Pukes semakin meyakinkan bahwa proses hunian yang telah berlangsung di kawasan ini paling tidak dimulai sejak periode mesolitik

Selanjutnya dengan temuan kapak lonjong dan kapak persegi di Gua Putri Pukes dan Loyang Mendale menunjukkan adanya aktivitas di kedua lokasi tersebut yang memiliki periodisasi neolitikum. Sebuah pecahan alat batu berupa kapak persegi pada kedalaman sekitar 10 cm atau di spit 1 kotak T15 S6 menunjukkan adanya aktivitas yang cukup intensif di kotak gali tersebut dalam kaitannya dengan paralatan batu (kapak lonjong dan persegi). Dengan demikian patut diduga bahwa kapak batu masa neolitik di produksi di situs dimaksud mengingat bahan kapak persegi juga ditemukan di kotak gali dimaksud.

Sedangkan dari hasil ekskavasi yang telah dilakukan di Loyang Ujung Karang, menghasilkan seperangkat peralatan batu berupa 2 (dua) mata panah berbahan andesitik. Menilik morfologi dan teknologinya kedua alat tersebut kerap merupakan bagian dari budaya mesolitik, namun karena ke dua alat dimaksud ditemukan sekonteks dengan kerangka manusia yang berciri dari budaya neolitik (bekal kubur gerabah yang diletakkan di dada) maka dari aspek morfologi teknologi alat batu dapat dikatakan bahwa aktivitas yang telah berlangsung di situs Loyang Ujung Karang, Mendale dan Putri Pukes telah berlangsung dari sejak babakan masa mesolitik dan neolitik. Namun kalau kita cermati tinggalan lainnya yaitu beberapa fragmen gerabah dan fragmen keramik, maka kawasan Mendale dan sekitarnya telah dihuni dari sejak masa mesolitik hingga kolonial.

Analisa Karbon

Analisa atas 3 (tiga) jenis sampel yang diambil dari Kotak gali U2 T1 di Loyang Mendale yaitu sampel abu pembakaran, sampel tulang manusia dan hewan serta sampel arang.  Sampel abu pembakaran diambil  pada kotak U2 T1 ekt. 2 pada kisaran spit (4) dengan kedalaman dari muka tanah berkisar 10 cm. sedangkan sampel analisa karbon pada tulang diambil pada ekt 1 dengan kedalaman sekitar 20 cm dari permukaan tanah.  Sedangkan sampel analisa karbon pada arang sisa pembakaran diambil dari ekt.2  dengan kedalaman 40-50 cm yang masuk kedalam spit (7) sisa pembakaran. Kalau kita menggunkan lapisan tanah pada sampel dimaksud maka tampak jelas bahwa lapisan abu pembakaran berada pada lapisan di atas dan dilanjutkan dengan lapisan tulang. Sedangkan lapisan  arang sisa pembakaran sangat jelas berada di dilapisan di bawahnya.

Adapun hasil dari analisa yang telah dilakukan pada ke-3 (tiga) sampel dimaksud yaitu:

NO
KOTAK
SPIT
KEDALAMAN DARI MUKA TANAH
JENIS SAMPEL
WAKTU

1
U2  T1 Ext 2
4
10 cm
Abu pembakaran
1740 ± 100  BP

2
U2 T1 Ext 1
Lot 3
20 cm
Tulang
1870 ±  170BP

3
U2 T1 Ext 2
7
40 – 50 cm
Arang
3580  ± 100 BP


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hunian dalam babakan masa neolitik yang telah berlangsung di Loyang Mendale berkisar dari 3580 tahun yang lalu hingga 1740 tahun yang lalu atau tahun 270 Masehi.

Namun dari hasil analisa atas morfologi dan teknologi pada berbagai artefak yang ada hunian di situs Mendale dan sekitarnya sangat mungkin jauh lebih tua dari masa itu, dan juga adanya temuan gerabah berglasir serta fragmen keramik menunjukan bahwa hunian di situs itu masih terus berlanjut hingga masa kolonial. Hasil analisa karbon atas tiga sampel dimaksud baru mewakili sebagain dari periodisasi neolitik yang telah berlangsung di wilayah itu dan hanya baru menggambarkan paruh waktu yang pasti atas sebagian aktivitas yang telah berlangsung di Loyang Mendale.

Selain itu hasil analisa karbon dimaksud memberikan gambaran bahwa pada sekitar 3580 tahun yang lalu telah ada kelompok orang yang berbudaya neolitik, telah mengenal estetika (perhiasan berbahan taring hewan) dan berbagai peralatan hidup dan upacara berbahan tanah liat dan batu serta telah mengenal religi, dengan menguburkan salah satu anggota kelompoknya yang telah meninggal dengan cara melipat kaki si mati dan menindihnya dengan bongkahan batu. Orang yang dikuburkan tersebut sangat mungkin merupakan seorang tokoh pada msanya, mengingat serakan tulang yang ada pada lapisan atasnya tidak diberlakukan seperti halnya kerangka di bawahnya. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa penguburan dengan cara menindih orang yang telah meninggal merupakan perlakuan khusus yang diperuntukkan bagi orang yang memiliki kedudukan khusus di kelompoknya.

Lokasi yang sempit dan berada di ujung utara deretan ceruk Mendale dengan posisi yang agak tinggi tersebut digunakan sebagai areal penguburan pada sekitar 3580 tahun yang lalu dan sekitar 1870 tahun yang lalu. Adanya serakan tulang manusia di atas kerangka yang tertindih bongkahan batu, sisa pembakaran dan juga abu pembakaran menggambarkan bahwa aktivitas lainnya juga dilakukan di areal tersebut. Artinya aktivitas di atas penguburan dapat juga dilakukan penguburan lainnya atau aktivitas lainnya seperti pembuatan api, baik untuk menghangatkan badan ataupun untuk aktivitas lainnya seperti aktivitas berdoa di atas penguburan dimaksud. Serakan tulang pada  1870 tahun yang lalu atau tahun 140 Masehi sangat mungkin merupakan kuburan bagi orang biasa atau orang yang tidak memiliki kedudukan istimewa di dalam kelompoknya, sehingga tidak harus ditindih dengan batu.

Secara umum penggambaran atas aktivitas yang telah berlangsung di situs Loyang Mendale dan sekitarnya bahwa telah ada kelompok masyarakat yang berbudaya mesolitik sebelum 3580 tahun yang lalu atau sekitar 1500 sebelum Masehi. Kemudian atas analisa karbon yang dilakukan dapat dipastikan bahwa pada 3580 tahun yang lalu telah ada kelompok orang yang berbudaya neolitik beraktivitas di situs Loyang Mendale dan sekitarnya. Pada tahun 140 Masehi juga terdapat kelompok orang yang tinggal di Loyang Mendale dan mereka menguburkan orang di tempat yang sebelumnya dijadikan areal penguburan. Dari sisa tulang hewan yang ditemukan di areal yang sama diindikasikan juga bahwa mereka beraktivitas (mengolah dengan membakar, mengonsumsi dan juga membuang tulang sisa makanan) di tempat itu. Pada tahun 270 Masehi atau 130 tahun setelah penguburan terakhir kemudian lokasi itu lebih diintensifkan sebagai lokasi hunian. Hal ini ditandai dengan tebalnya abu pembakaran, yang juga menunjukan aktivitas pembakaran yang sangat tinggi sehingga bahan organik sudah tidak nampak lagi. Kalau dikaitkan dengan pemanfaatan lahan maka sangat mungkin aktivitas di lokasi itu berkaitan dengan adanya penguburan.

Orang Gayo dengan Kelompok lain

Bahwa temuan kerangka manusia di Takengon yang memiliki masa 3.580 tahun yang lalu menggambarkan kepada kita adanya kelompok manusia yang telah beraktivitas aktif di sekitar Danau Lut Tawar. Hasil analisa karbon pada konteks temuan kerangka dimaksud mengindikasikan bahwa kerangka itu relatif memiliki masa yang sangat dekat dengan masa kini, artinya ada kemungkinan kerangka manusia yang ditemukan di Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang memiliki keterkaitan yang kuat dengan orang Gayo sekarang ini. Untuk itu masih perlu dilakukan penelitian arkeologis yang jauh lebih intensif di Loyang  Mendale dan sekitarnya dan juga di wilayah tanah Gayo, dan juga penelitian dan analisa lainnya seperti karbon, pollen, antropologi ragawi dan juga DNA. Penelitian dimaksud dapat dengan baik membantu merekonstruksi sejarah budaya di Tanah Gayo dan juga proses perubahan budaya dapat dimengerti dengan lebih baik.

Penelitian dalam bentuk ekskavasi di sekitar wilayah Gayo juga sangat diperlukan untuk dapat menginformasikan lebih baik berbagai unsur kebudayaan dan hubungan orang Gayo dengan Orang Karo, hubungan orang Gayo dengan orang Batak Toba atau juga orang Gayo dengan orang Aceh Pesisir.

*Peneliti Madya Bidang Prasejarah di Balai Arkeologi Medan

Sumber :

http://www.lintasgayo.com/54799/hunian-awal-leluhur-masyarakat-gayo-mendale-dan-sekitarnya.html
on Leave a Comment

Ekspedisi dan Rekonstruksi Genosida Belanda Di Tanah Gayo 1904

Foto seusai peperangan di Kute Reh Linge, menurut ahli sejarah Belanda diperkirakan sekitar 4.000 orang Gayo tewas
Foto seusai peperangan di Kute Reh Linge, menurut ahli sejarah Belanda diperkirakan sekitar 4.000 orang Gayo tewas.
Trio wartawan senior asal Aceh, HM Iwan Gayo, LK. Ara dan Oedin dela Rosa, pada tanggal 13 April 2015, telah sepakat dan menandatangani MOU (Memory of Understanding) untuk bekerjasama secara sukarela meneliti menelusuri, dan merekonstruksi sejarah Perang Aceh episode Pembantaian Etnis Gayo dan Alas di Dataran Tinggi Tanah Gayo (Aceh Tengah) yang dilakukan oleh prajurit-prajurit kejam dari Detasemen Marsose pimpinan Kolonel Belanda CJT Van Daalen pada tahun 1904.

Perang yang berat sebelah dan dilakukan secara membabi buta dan penuh rekayasa genosida ini dilakukan oleh Belanda, semata-mata untuk dapat segera mengakhiri dan menuntaskan Perang Aceh yang sangat panjang, melelahkan dan membangkrutkan keuangan Pemerintah Belanda itu. Pembantaian yang dilakukan oleh 10 brigade Marsose (maréchaussée), itu berlangsung sangat singkat, hanya 165 hari (8 Februari 1904 – 23 Juli 1904). Ya, dalam waktu kurang dari setengah tahun itu, Overste Van Daalen telah membantai 4.061 rakyat Gayo dan Alas dengan perincian 2.902 pria tewas, dan 1.159 wanita serta anak-anak.

Akibatnya di Belanda sendiri muncul kritik pedas dari sejumlah anggota parlemen, pada tanggal 1907 sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang dengan nama samaran Wekker (WA. van Oorschot) berjudul Hoe beschaafd Nederland in de twintigste eeuw vrede en orde schept op Atjeh (Bagaimana Beradabnya Belanda di Abad ke-20 dalam Menciptakan Perdamaian dan Ketertiban di Aceh) muncul di surat kabar De Avondpost terbitan Den Haag, yang mengungkap penyalahgunaan wewenang di Aceh.

GALANG DUKUNGAN PARLEMEN RI

Tahap awal program napak tilas berupa ekspedisi dan rekonstruksi yang akan dilakukan oleh trio wartawan asal Aceh, adalah menggalang dukungan dari anggota parlemen asal Aceh yang berjumlah 13 orang, selain itu diminta juga dukungan 4 orang anggota Senator (DPD). Sejauh ini Ketua Forum Bersama anggota DPR & DPD asal Aceh, Prof. Dr. Bachtiar Aly (Partai Nasdem) telah menyatakan dukungannya secara penuh dan memberi saran agar buku “PERANG GAY0-ALAS MELAWAN KOLONIALIS BELANDA” karangan MH Gayo, agar dapat dicetak ulang dengan ISBN/ISSN untuk disosialisasikan secara luas.

Menurut Prof. Bachtiar Aly, buku tersebut bukanlah sekedar torehan perjalanan panjang rakyat Gayo dan Alas, melainkan ia menjadi mozaik sejarah Indonesia masa lalu, kini, dan kontemporer. Tidak hanya mendukung secara moral, Profesor Bachtiar Aly bahkan membekali panitia kerja dengan sumbangan tunai 15 juta rupiah. Sedangkan Haji Firmandez, anggota DPR-RI dari Golkar kelahiran Gayo, menyumbang 20 juta rupiah. Dukungan serupa juga dinyatakan dengan penandatanganan naskah MOU oleh anggota DPD asal Aceh; Fachrul Razy Mi.P, Sudirman, dan Rafly. Beberapa anggota DPR dan DPD lainnya juga sudah menyatakan dukungannya dan siap untuk menandatangani naskah dukungan sebelum reses yad.

MAPPING 10 BENTENG DI DATARAN TINGGI TANAH GAYO

Kemudian mereka akan mengadakan mapping ke 7 Benteng di Gayo Lues yaitu 1. Benteng Pasir, 1. Benteng Pasir, 2.Benteng Gemuyang, 3. Benteng Durin, 4. Benteng Badak, 5. Benteng Rikit Gaib, 6. Benteng Penosan, 7. Benteng Tampeng, serta 3 Benteng di Tanah Alas, yaitu 8. Benteng Kute Reh, 9. Benteng Likat, dan. 10. Benteng Lengat Baru.

VAN DAALEN

Van Daalen
Van Daalen
Karena dianggap berhasil memadamkan perlawanan rakyat Gayo-Alas dari gunung pedalaman Aceh itu maka Pemerintahan Belanda langsung menunjuk Van Daalen sebagai Gubernur Aceh meskipun oleh Dewan Hindia,pembantaian yang dilakukan Van Daalen kepada pribumi, sangat tidak bijaksana dan sangat menjijikkan itu. Gotfried Coenraad Ernst van Daalen (lahir di Makassar, 23 Maret 1863 – meninggal di Den Haag, 22 Februari 1930 pada umur 66 tahun) adalah tokoh militer Belanda.

Van Daalen amat dikenal atas tindakannya di Aceh, ketika penduduk Tanah Gayo dan Alas banyak dibantai dan semasa menjabat sebagai gubernur militer di sana. Saat tindakannya banyak diketahui pers di Belanda, Van Daalen harus mengundurkan diri. Van Daalen adalah putera Gotfried Coenraad Ernst van Daalen Tua, seorang kapiten dalam Perang Aceh Kedua. Selulus HBS pada usia 16 tahun, ia meneruskan pendidikan ke Koninklijke Militaire Academie di Breda sebagai kadet kesatuan artileri di Hindia-Belanda. Pada bulan November 1884, ia pergi berdinas di Jawa dengan kesatuan artileri dengan pangkat Letda. 

Sumber :

http://www.lintasgayo.com/53984/expedisi-dan-rekontruksi-genosida-belanda-di-tanah-gayo-1904.html

Sabtu, 26 September 2015

on 1 comment

Wisata Takengon Jangan Lewatkan Puncak Bur Perulangen

Catatan Kha A Zaghlul
Takengon dan danau Lut Tawar dari Bur Perulangen. (LGco_Khalisuddin)
Takengon & Danau Laut Tawar dari Bur Perulangen
Menikmati keindahan panorama alam kota wisata Takengon dan Danau Lut Tawar tak hanya dari puncak Al Kahfi Pantan Terong di sisi barat, dari puncak Bur Gayo di sisi Selatan dan dari Bur Mendale disisi utara. Suguhan indahnya alam juga dapat disaksikan dari Bur Perulangen yang berlokasi sekitar 2-3 kilometer dari pusat kota dingin kopi tersebut. Menuju Bur Perulangen dijamin tidak akan tersesat bagi walau yang masih sangat asing dengan kota Takengon. Cari saja perempatan jalan di ujung jembatan (Totor) Bale lalu belok dan lurus melewati kampung Asir-asir. Sekitar 1 kilometer disisi kanan jalan ada gedung Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan sekitar 100 meter akan ditemui persimpangan. Pilih jalan menanjak dengan ratusan pohon pinus berukuran sedang disisi kiri, dan itulah titik awal lokasi wisata Bur Perulangen.

Semakin jauh jalan yang ditempuh, maka semakin tinggi ketinggian tempat yang dipijak dan tentu makin luas panorama lembah Takengon yang dapat dilihat. Bukan hanya kota seluruh sudut kota dingin ini yang bisa dinikmati dari Bur Perulangan tapi juga hamparan perkebunan kopi kawasan Tensaran, Umang, Belang Gele dan Bies. Panorama daerah aliran sungai Peusangan serta hulunya di Danau Lut Tawar dapat dilihat dari Bur Perulangen ini. Dan jika beruntung, kegagahan Burni Telong akan terlihat jelas jika tidak ada awan yang menghalanginya. Arak-arakan awan terasa begitu dekat dan malah serasa sejajar dengan kaki berpijak. Masyarakat Tanoh Gayo yang dikenal hidup dengan kopi Arabikanya juga bisa ditemui. Sejumlah keluarga petani kopi sudah sejak lama berdomisili dikawasan ini. Mendirikan rumah ditengah hamparan kebun kopi.

Sungai Pesangen dan perkebunan kopi Belang Gele dari Bur Perulangen. (LGco_Khalis)
Sungai Pesangen dan perkebunan kopi Belang Gele dari Bur Perulangen
Setelah puas nikmati pandangan mata burung (eye bird) hamparan luas lembah Takengon dan Danau Lut Tawar, perjalanan dapat dilanjutkan menuju puncak. Dari sini, mata akan kembali terbuai dengan pemandangan kawasan Pegasing yang dikenal dengan sentra produksi Nenas manisnya. Lagi-lagi jika beruntung, akan dinikmati luasnya hamparan persawahan yang dipenuhi air karena sedang dalam proses olah tanah, atau menghijau karena baru ditanami padi dan sangat istimewa jika hamparan sawah tersebut sedang berbuah dan sedang menguning.

Sayangnya, perjalanan tidak bisa diteruskan dengan berkenderaan bermotor, roda dua atau empat. Sepanjang lebih kurang 300 meter lagi, jalan yang baru dibuka di tahun 2011 dari arah berlawanan dari Kampung Kayu Kul Pegasing dan sebagian besarnya masih berupa jalan tanah ini belum lagi tembus pembukaannya. Berkendaraan ke Kawasan Bur Perulangen bukan tidak punya resiko. Pastikan power mesin dalam kondisi prima alias tidak ngadat karena tanjakan yang harus dilalui lumayan tinggi dan panjang. Selain itu juga pastikan rem tidak bermasalah alias blong. Jurang yang lumayan dalam dan tanpa penghalang selalu menganga menunggu korban. Ke Takengon, jangan keliling Danau Lut Tawar saja, jangan puas setelah berkunjung ke Pantan Terong dan Atu Tingok Bur Gayo, rasakan berada di ketinggian serasa terbang di Bur Perulangen. Tentu saja pastikan juga berjalan-jalan ke kebun kopi warga setempat, dan rasakan citarasa kopi spesial “Arabika Gayo” yang banyak disajikan di coffee shop-coffee shop diseputaran Takengon.

Indahnya panorama dari Bur Perulangen, juga tergambar dari sajak seniman ternama putra Gayo, LK. Ara.


LK. Ara
LK. Ara

Bur Perulangen

Ari bur perulangen
temas maten te mumanang
nge nenang
ku kute takengen
ku kampong kebayakan
ku wih si mampar
ku lut tawar

Ari bur perulangen
mampat telas alam luwes
urum ate uwes
kite mumanang
bur bur telas, kampong dan  kute telas
telas kayu si rubu
telas jelen si naru
telas pante mupasir
den so i langit
si gere terjelgit
telas emun lagu munawe
berulon-ulonen.

Ari bur perulangen
Kengon mata ni Gayo
Reduk lagu mungene
Kune die nasip te
Bur perulangan, bur perulangan
Tuhen Maha Semayang
Nge mubagi kasih sayang
Ku kite urum alam

(Banda Aceh, 11 Agustus 2011)

Sumber :

http://lintasgayo.co/2015/09/01/wisata-takengon-jangan-lewatkan-puncak-bur-perulangen

Selasa, 02 Juni 2015

on Leave a Comment

Putra Gayo, Juara 1 Coffee Competition Festival Kopi Tanah Air Kita 2015

Budi_Mulyara,_(dari_facebook_budi)[1]

Festival Kopi Tanah Air Kita 2015 yang digelar oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, 28-30 Mei di The Breeze BSD City, Tangerang, juga memperlombakan coffee competition yang diikuti oleh 20 peserta dari berbagai coffee shop, hotel atau perseorangan yang terdiri dari barista, mixologist, coffee enthusiast dan petani kopi.

Budi Mulyara perwakilan trainer barista Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Masyarakat Kopi Indonesia (LDP MKI) berhasil memenangkan Juara 1 untuk Coffee competition ini.
“Sangat bersyukur bisa mendapatkan juara pertama dan predikat ini merupakan tanggung jawab besar bagi saya,” ungkap Budi, pria kelahiran Takengon 23 tahun lalu, Senin 1 Juni 2015.

Perlombaan yang terdiri dari lima babak dengan sistem gugur. Babak pertama soal pilihan ganda yang mencakup materi tentang sejarah kopi, kimiawi biji kopi, kebaristaan, proses pasca panen, tehnik meracik dan lain-lain. Sesi kedua coffee mapping dimana peserta menebak gambar dan mendeskripsikannya. Babak ketiga sortasi biji kopi dimana peserta akan memilih dan mengklasifikasikan kopi dari wadah yang berisi kopi arabika, robusta dan liberika.
Sesi 4 kopi cupping, peserta diberi dua gelas kopi tubruk dan peserta diminta menjelaskan karakteristik citarasa asal dan  daerah tanaman dan sesi kelima latte art peserta diminta membuat dua cangkir latte dengan membuat kreasi sendiri dan tulip jelas Budi dengan kesyukuran telah dapat melewati semua babak perlombaan.

“Kopi adalah identitas urang Gayo, kalau ditanya apakah kopi yang mengangkat orang Gayo ataukah orang Gayo yang mengangkat kopinya?, maka harusnya urang Gayo sendiri yang bisa mengangkat kopinya,” tutup alumnus UGM ini.

Sebelumnya, kegiatan ini juga menggelar talk show selama dua hari dan sehari untuk coffee competition. Talk show yang dilaksanakan 28-29 mei 2015 ini diisi oleh beberapa pembicara diantaranya Marwan Ja’far (Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Ruslan Abdul Gani (Bupati Bener Meriah), Tuti H. Mochtar, Andreas Maryoto, Dr. Bayu Krismurti, M.Si dan H. Rudy Gunawa SH, MH, MP.

(Zuhra Ruhmi | DM)

Sumber :

http://lintasgayo.co/2015/06/01/putra-gayo-juara-1-coffee-competition-festival-kopi-tanah-air-kita-2015

Diberdayakan oleh Blogger.